Tampilkan postingan dengan label Jawa Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Barat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juli 2011

Rumah Makan : Manjabal 1 Ciamis




Restoran saung di pinggir jalan raya lintas jawa bagian selatan ini menyajikan aneka makanan khas Indonesia. Dalam perjalanan menuju Jogjakarta via jalan lintas selatan Pulau Jawa lewat Ciamis, kami mampir di sana untuk sarapan sekaligus beristirat. Aneka menu yang kami pesan antara lain, cumi asam manis, gurame goreng (menu khas daerah yang terkenal sebagai salah satu sentra penghasil ikan gurame tersebut), ayam bakar, bebek bakar, dan tak lupa lalapan (khas negeri pasundan). Minuman yang pasti terswaji tanpa diminta adalah teh tawar. Tapi kami memesan juga teh manis dan jeruk hangat.

Kondisi restoran yang mengambil konsep saung (rumah di atas kolam) membuat anak-anak merasa gembira karena bisa melihat aneka ikan (mujair, nila, mas, gurame) di kolam sambil menikmati makanan. Beberapa ekor bebek yang sedang diangon pun turut meramaikan acara sarapan, yang tentu, tidak akan dialami saat kami berada di Jakarta.

Jika perjalanan kita dari Jakarta menuju Ciamis, restoran ini ada di sebelah kanan jalan, beberapa kilometer menjelang pertigaan Cikoneng yang merupakan persimpangan dari Tasikmalaya menuju Ciamis




Kamis, 16 September 2010

Taman Buah Mekarsari



Jonggol, 13 September 2010

Mengisi liburan hari raya kali ini, saya membawa keluarga berjalan-jalan ke salah satu tempat rekreasi. Pilihan kami kali ini adalah Taman Buah Mekarsari (TBM), yang terletak di Jonggol, sebelah timur Cibubur. Kami menggunakan mobil pribadi, meskipun sebenarnya angkutan umum ke sana relatif mudah, karena lokasinya tidak terlalu jauh dari terminal Cileungsi. Untuk menuju terminal Cileungsi, banyak sekali bis besar dan kecil dari berbagai penjuru Jakarta dan bahkan Bogor yang trayeknya ke sana. Dari Terminal Cileungsi, naik angkot biru ke arah Jonggol.

Kami berangkat dari rumah tepat pukul 7.30 pagi. Setelah menyusuri tol dalam kota, kemudian tol Jagorawi, lalu keluar di Cibubur. Jalan Trans Yogi Cibubur lumayan sepi pagi itu, sehingga pukul 8.40, kami sudah tiba di lokasi Taman Buah Mekarsari.

Di gerbang masuk (gerbang paling timur), kami membayar tiket. Untuk mobil, kami membayar uang tiket Rp.10.000, dan tiket per orang (usia di atas 1 tahun) Rp.20.000.. Setelah memarkir mobil di lahan parkir yang tersedia, kami melangkah menuju area utama di Taman Buah Mekarsari. Karena baru pertama kali kami ke TMB, tujuan pertama kami adalah pusat informasi. Di sana kami memperoleh informasi bahwa kami bisa menikmati suasana TMB dengan beberapa pilihan cara dan moda transportasi..

Pilihan pertama jalan kaki, dan ini adalah pilihan yg murah, tapi dengan konsekuensi fisik dalam kondisi yang fit. Tapi bisa saja sih dengan jalan kaki, sampai di plasa air mancur, tempat kita bisa berekreasi dan berfoto-foto. Di sepanjang jalan itu, ada lokasi taman bermain anak-anak.

Alternatif lainnya adalah naik bis atau kereta. Ada dua pilihan yang ditawarkan kepada kami. Pertama, tiket regular Rp.10.000 per orang, tapi hanya sampai danau dan tidak berhenti di beberapa lokasi kebun buah. Kedua, tiket Green Land Tour dengan harga Rp.50.000 per orang. Tiket ini mencakup berhenti di tiga kebun wisata buah (saat itu, kebun melon, kebun salak, dan kebun belimbing), lalu ke lokasi wisata air di danau, plus 5 tiket yang bisa ditukarkan dengan juice buah, 2 jenis buah (kami dapat salak dan belimbing), souvenir, dan bibit buah.

Kami memilih membeli tiket Green Land Tour. Setelah membayar, kami mendapat selembar stiker berwarna hijau yang harus kami tempel di baju sebagai bukti kami telah membeli tiket tour tersebut. Setelah menunggu beberapa saat, keluarga kami dipanggil dan dipersilakan menaiki bis kereta yang telah disediakan untuk kami.

Informasi awal yang kami peroleh, di tiap perhentian, kami tidak harus menggunakan bis/kereta yang sama. Kami boleh naik kereta mana saja yang standby di sana, sehingga kami tidak perlu terburu-buru meninggalkan lokasi kebun yang kami datangi.

Pertama kami tiba di kebun melon. Kami menukarkan tiket kami dengan juice buah dan menikmati kebun melon yang kebetulan buahnya yang berwarna kuning bergelantungan di pohon-pohon yang ditanam di pot-pot tersebut. Kemudian kami berhenti di kebun salak, dan tiketnya kami tukarkan dengan sekeranjang kecil salak. Lalu pemberhentian selanjutnya adalah kebun belimbing dan kami menukarkan tiket dengan sebuah belimbing. Kami melewati beberapa kebun beberapa jenis buah yang kebetulan belum berbuah seperti sirsak, durian, mangga, dan rambutan. Eh… ternyata di sana ada juga penangkaran rusa tutul, jenis rusa yang sama dengan yang ada di Istana Kepresidenan di Bogor.

Terakhir, kami berhenti di danau tempat wisata air. Rupanya anak kami betah di sana, sehingga tiba-tiba saja ia minta diantar BAB…! Kemudian kami naik perahu naga dengan tiket Rp.15.000 per orang. Ada juga donat apung Rp.20.000 per orang, lalu ada jetski, perahu tradisional dan lain-lain. Setelah lelah menikmati suasana ramai di danau itu, kami kembali ke titik awal dengan menumpang kereta bis lagi.

Di titik awal tersebut, kami menukar tiket souvenir di gedung souvenir di belakang ATM centre dan tiket bibit di kebun bibit di area penjualan bibit yang letaknya menuju tempat parkir dekat toilet. Asyik….kami dapat bibit jambu merah dan jeruk limau, gratis. Kami memilih bibit itu dari beberapa jenis bibit yang disediakan di sana. Sementara, Souvenir yang kami dapatkan berupa stiker dan pin.

Ketika kami akan pulang, kami berpapasan dengan pengunjung yang baru datang. Wow…! Ternyata pengunjung yang datang setelah kami sangat banyak sekali. Antrian mereka di tiap loket mengular panjang sekali, sehingga kami bersyukur bahwa kami berangkat pagi-pagi sekali dan tidak merasakan antrian panjang yang sangat menyebalkan tersebut.

Pukul 12.30 WIB, kami pulang ke Jakarta dan berakhirlah perjalanan kami ke Taman Buah Mekarsari pada hari ini. Kami senang karena anak-anak kami tidak rewel, bahkan menikmati suasana, lalu karena kami datang pagi-pagi, belum ada antrian panjang yang menyebalkan, dan alhamdulillah, perjalanan pulang ke Jakarta pun lancar dan menyenangkan.

Demikian perjalanan kami. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

Senin, 23 Agustus 2010

NGABUBURIT DI GUNUNG PUTRI, BOGOR





Bogor, 22 Agustus 2010

Mengasyikkan juga, mengajak anak dan istri ngabuburit. Kami berkeliling dengan menggunakan motor tuaku, menikmati keramaian sore di salah satu tempat di Gunung Putri, Bogor. Banyak sekali orang yang keluar sore itu untuk menanti saatnya berbuka puasa, sekaligus mencari makanan untuk berbuka.

Kami, sesuai keinginan anak kami, mencari tukang martabak. Kami membeli beberapa bungkus martabak manis dan telor untuk menu berbuka puasa. Selain itu, kami membeli dua bungkus bakso kotak yang ternyata rasanya lumayan enak.

Ada hal menarik dalam perjalanan sore ini. Di salah satu sudut jalan, kami melihat ada orang yang sibuk berteriak di pinggir jalan dengan sebuah karton di depan dadanya sambil menunjuk sebuah meja penuh berisi makanan pembuka puasa. Ternyata ia mengundang pengendara motor dan pejalan kaki untuk mengambil makanan berbuka yang disediakan gratis olehnya atau oleh keluarganya. Luar biasa.

Terakhir, kami mampir di toko sandal untuk membeli sepasang sandal untuk anak kami. Sandal anak kami memang sudah saatnya diganti, karena sudah robek di beberapa tempat.

Kami memacu motor dengan perlahan, karena suasana yang memang sangat ramai dan lalu lintas lumayan tersendat. Tetapi, itulah perjalanan mengasyikkan kami sore ini. Ngabuburit di Gunung Putri, Kabupaten Bogor.

Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

Wassalam.

Sabtu, 01 Mei 2010

Desa Bojong Nangka




Ada yang sudah pernah mendengar nama desa tersebut? Bagi yang tinggal di daerah Gunung Putri Bogor, mungkin pernah mendengarnya. Ya, desa itu terletak di Kecamatan Gunung Putri kabupaten Bogor, tidak jauh dari Cikeas, daerah kediaman Presiden kita saat ini.

Kemarin, saya mengajak anak saya bermain di rumah seorang kerabat di sana. Rumahnya ada di Desa Bojong Nangka. Dari arah Cikeas, ke arah Karanggan, Gunung Putri. Di dekat sana ada sebuah perumahan, namanya Perumahan Antariksa, katanya dihuni oleh anggota TNI Angkatan Udara, lalu ada juga beberapa tower semacam rusun, yang katanya perumahan khusus anggota Paspampres. Tak jauh dari sana, ada kantor desa Bojong Nangka, dan rumah kerabat kami itu terletak tak jauh dari sana.

Lokasi rumah kerabat kami masuk ke dalam, agak jauh dari jalan raya. Kami memasuki wilayah kebun, yang sebagian besar adalah kebun bumbu dapur, atau empon-empon. Ada jahe, lengkuas, kunyit, sereh dan lain-lain. Daerah ini memang dikenal dengan kebun bumbu dapurnya.

Rumah kerabat kami dikelilingi pepohonan tinggi, sebagian besar pohon rambutan, yang sayangnya, belum musim berbuah. Ada pohon pisang kepok dan pisang ambon. Ada juga pohon singkong yang siap cabut. Suasana yang teduh sangat nyaman untuk dinikmati. Anak saya langsung berbaring di karpet yang digelar di teras rumah sambil memejam-mejamkan matanya, menikmati suasana yang nyaman itu.

Ketika saatnya harus kembali ke rumah, saya dan istri harus mengerahkan segenap kemampuan kami untuk membujuk anak kami yang betah, gak mau pulang. Suasana kampung yang nyaman memang selalu membuat anak kami betah.

Itulah perjalanan singkat kami ke Desa Bojong Nangka. Nantikan perjalananku berikutnya. Wassalam.

Minggu, 25 April 2010

Ke Kedung Halang, Bogor

Dulu saya sering main ke Bogor. Rute yang saya lalui ada dua, yaitu lewat tol jika naik mobil, atau lewat jalan raya Bogor. Kalau harus ke Kedung Halang atau ke Pemda di Cibinong, kami berputar cukup jauh jika lewat Bogor, dan kalau lewat jalan raya Bogor, hmm….banyak hambatan euy…
Nah, beberapa hari yang lalu, saya mengajak keluarga jalan-jalan. Tujuan kami, Cibinong, ke rumah seorang kawan lama istri. Mobil kami pacu lambat-lambat saja karena tidak ada yang membuat kami harus terburu-buru. Saya memutuskan lewat jalan tol, karena menurut beberapa kawan, tol Bogor Outer Ring Road sudah bisa dilalui. Biasa…nyoba barang baru….
Sesuai petunjuk, kami keluar lewat pintu Sentul Selatan. Setelah membayar, kami membelok ke kanan, melalui jembatan tol. Tidak jauh setelah jembatan, kami membayar lagi tol berikutnya. Tol yang menuju Kedung Halang.
Ternyata, sungguh mencengangkan…! Selama ini, Kedung Halang itu, kalau lewat Baranangsiang, lumayan jauh lho..! Ternyata, kami tiba di pintu keluar tol Kedung Halang dalam waktu yang sangat singkat. Wow..!
Setelah keluar dari tol, kami melalui perempatan. Ke kiri, ke jambu dua, Bogor, ke kanan ke Cibinong, dan lurus ke arah Darmaga. Kami akan ke Cibinong, tapi tidak bisa langsung ke kanan. Kami harus lurus dulu, dan berputar di atas underpass, tak jauh dari perempatan itu.
Itu dulu pengalaman mencoba tol baru. Sampai berjumpa di perjalanan berikutnya.
Wassalam.

Lost In Tasikmalaya

Anda orang asli Kota Tasikmalaya? Atau sudah sering ke kota Tasik? Berarti tulisan ini tidak ada gunanya untuk Anda. Tetapi, kalau sekedar untuk mengisi waktu luang, sah-sah saja kalau ingin membaca tulisan ini. Saya akan menceritakan pengalaman sewaktu melakukan penjelajahan di kota Tasikmalaya.

Kala itu, kami pergi ke Tasikmalaya menggunakan mobil pribadi. Ketika memasuki kota Tasik, kami mendapat panduan dari saudara yang kebetulan seperjalanan dengan kami, sehingga tidak ada kesulitan sama sekali. Tetapi hal yang berbeda terjadi saat kami harus meninggalkan Tasikmalaya tiga hari kemudian. Kami harus keluar dari kota ini tanpa panduan karena mendadak saudara kami itu tidak bisa jalan bersama kami.

Kami sempat menginap semalam di Desa Sindangkasih, yang terletak di perbatasan antara Ciamis dan Tasikmalaya. Hari berikutnya, kami menginap di sebuah hotel di Jalan Mustofa, kota Tasikmalaya. Hotel itu lumayan bagus, dan enaknya lagi, hotel itu menyatu dengan sebuah Mall, sehingga kami tidak kesulitan mencari makan. Ketika tiba saatnya meninggalkan Kota Tasikmalaya, kami putuskan tidak lagi melalui Malangbong, tetapi kami ingin melewati pinggiran Kota Garut.

Untunglah, meskipun tidak lagi bersama pemandu, saya sempat mengingat bahwa kalau akan mengarah ke Garut, saya harus menemukan Jl. Juanda, Jl Sutoyo, atau Jl Gub. Sewaka, untuk tiba di sebuah tugu (simpang lima) yang ada petunjuk arah ke Garut (lewat Jl AH Nasution/Empangsari, kalau tidak salah). Sementara kalau akan ke arah Ciamis, yang mudah adalah dengan menemukan Jl A. Yani (Pancasila) atau Jl M. Hatta.

Akhirnya, dengan try and error, nyoba-nyoba jalan, kami menemukan Jl Juanda. Susah amat sih? Kenapa gak nanya Polisi? Karena kami jalan masih pagi buanget, dan Om Polisi masih istirahat di pos masing-masing, jadi kasihan kalau harus diganggu. Dari arah hotel, kami mengarah ke dalam kota, lalu membelok ke kiri, terus mengikuti jalan tersebut (saya lupa nama jalannya), sampai mentok, dan membelok ke kanan ke Jalan KH Mutaqin. Ujung dari jalan tersebut adalah Jl, Juanda.

Yah, itulah kalau gak mau bertanya, sesat di Tasik. Tetapi, kalau menggunakan kendaraan umum, pasti tidak akan tersesat kok. Itu dulu pengalaman di Tasik. Tunggu pengalaman perjalanan lainnya. Wassalam.

Rabu, 30 Desember 2009

Jalan-Jalan ke Tanah Pasundan IV – Melamar di Sambong Jaya




Kamis, 24 Desember 2009. Menjelang tengah hari, hujan mulai reda. Kami bersiap-siap, karena akan pergi ke kota Tasikmalaya. Acara melamar untuk adik kami akan berlangsung di sana setelah Shalat Dzuhur. Anakku sudah tidak sabar untuk segera berjalan-jalan.

Kota Tasikmalaya berada di sebelah Selatan Sindangkasih. Tujuan kami adalah daerah Sambong Jaya. Aku masih buta wilayah. Tapi untunglah, tidak nyetir, sehingga bisa menghapal jalan-jalan di sana. Anakku pun antusias melihat ke luar, meski diselingi bercanda dengan penumpang lainnya. Aku sempat menelpon beberapa kawan untuk memastikan arah menuju lokasi.

Kami melalui Jl Moh. Hatta, lalu di tugu setelah perlintasan KA, kami membelok ke kiri (Jl Dr Sukardjo kalau gak salah). Lalu terus menyusuri jalan KH A Mustofa. Setelah SPBU, kami membelok ke kanan dan memasuki desa (atau perumahan..?) Sambong Jaya. Tiba di sana, di sambut tuan rumah, lalu mulailah acara lamaran. Bahasa Sunda membuat aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik. (maklum, dulu bolos terus saat kuliah bahasa Sunda, hehe…).

Saat makan siang menjadi acara paling ditunggu. Maklum, jam dinding (karena tidak punya jam tangan) sudah menunjukkan pukul 14.00 waktu sambong jaya. Lauk (ikan) gurame, ayam bakar, lalap, dan sambal, sangat merangsang nafsu makanku. Namun tetap saja, dalam rangka menjaga image (jaim mode on…), aku masih berbasa basi dengan tuan rumah. Sayangnya, semangat jaimku runtuh oleh kelakuan anakku yang dengan semangat luar biasa berteriak, “Abi laper….!!!!!”. Wah, aku lupa mengantisipasi kebiasaannya setiap datang ke acara-acara kondangan yang selalu berteriak setiap kali melihat makanan dihidangkan. Apalagi, dia memang belum makan siang saat berangkat tadi. Alhasil, terpaksalah kami menemani anakku mengambil makanan yang terhidang di meja, hmm…enak juga…!!

Acara melamar usai dan kami pun pamitan. Kami melanjutkan perjalanan menuju tempat pemberhentian selanjutnya. Sampai berjumpa lagi keluarga Sambong Jaya… Terima kasih untuk makan siangnya…

Selasa, 29 Desember 2009

Peta Sindangkasih, Ciamis


Tidak lengkap rasanya, menceritakan sebuah tempat tanpa memberikan gambaran lokasinya. Aku coba membuat denahnya. Silakan diamati.

Selamat menjelajah.

Wass.

Senin, 28 Desember 2009

Jalan-Jalan ke Tanah Pasundan III – Pagi Berhujan di Sindangkasih



Sekitar pukul 04.45 waktu Sindangkasih. Mata masih belum ikhlas membuka dirinya. Maklum, basa basi dengan tuan rumah berlangsung sampai pukul 03.00 waktu Sindangkasih. Basa basi diperlukan sebelum numpang nginep, hehe… Alhasil, lewat pukul 03.00 waktu Sindangkasih, aku baru bisa memejamkan mata.

Inginnya tetap tidur sampai siang, tapi apa boleh buat, suara adzan Subuh sudah berkumandang beberapa saat yang lalu, memanggil kaum muslim menunaikan kewajiban kepada Sang Khalik. Jadi, kubangkitkan tubuh ini dan melangkah tertatih-tatih ke kamar mandi. Air wudhu segera menyegarkan kembali tubuh yang masih lelah ini. Selesai Shalat Subuh, menikmati udara pagi yang segar adalah agenda berikutnya, sesuatu yang hampir sulit didapatkan di Jakarta yang pengap.

Luar biasa, olahraga pagi ditambah udara yang segar, membuat tubuh ini terasa ringan kembali. Anakku segera kubangunkan dari tidurnya. “Nak, bangun sayang… kita jalan-jalan ke sawah yuk…”kataku kepadanya. Mendengar kata-kata sawah, anakku segera bangkit dari tidur dengan senyum. Kami lalu mempersiapkan diri untuk pergi ke sawah.

Namun sayang, pagi itu, cuaca tidak begitu mendukung rencana kami. Mendung membayang, mengisyaratkan hujan siap membasahi bumi ini. Tepat seperti yang kami perkirakan, hujan segera turun dengan lebat. Gagal sudah penjelajahan pagi bersama anakku, dan terpaksa ditunda sampai hujan reda. “Sabar ya nak…” kataku pada anakku. Dia mengangguk sambil berkata “kita liat kolam ikan di belakang rumah aja ya, Yah…” Alhasil, acara kami pagi ini “hanya” menikmati sarapan di saung belakang rumah sambil berfoto bersama.

Setelah sarapan, karena hujan masih turun meskipun sudah mereda, maka yang bisa kulakukan adalah…..melanjutkan tidur….

Sabar ya Nak……..

Minggu, 27 Desember 2009

Jalan-Jalan ke Tanah Pasundan II - Ciamis, Kami Datang.....!!

Kami melanjutkan perjalanan setelah beristirahat agak lama di rest area km 39 jalan tol Jakarta Cikampek. Ternyata setelah rest area yang kami kunjungi, masih ada empat rest area lain sepanjang jalan menuju pintu tol Cileunyi. Ada satu yang baru dioperasikan, di km 72 arah Bandung, lumayan besar dan lengkap dengan SPBU. Total kami melewati enam rest area yang cukup besar dan lengkap sepanjang tol Jakarta ke Cileunyi.

Saat tiba di Pintu tol Padalarang, kami menukarkan tiket tol yang didapat di pintu tol Cikunir dengan tiket tol baru. Hanya tukar saja, tanpa melakukan pembayaran. Fungsinya untuk apa ya…?? Ah, pusing amat… tuker aja, gak usah dipikir, gitu aja repot…

Kami tiba di pintu tol Cileunyi sekitar pukul 24.00 WIB. Kecuali saya dan sepupu istri yang menyetir, lainnya sudah lelap dalam mimpi indah. Tetapi istri terbangun ketika kami memasuki antrian pembayaran tol. Uang sejumlah Rp.46.500,00 (kalau tidak salah ingat) segera berpindah ke tangan penjaga tol.

Keluar pintu tol, ada persimpangan, ke kiri ke arah Cileunyi, lurus ke arah Sumedang, dan ke kanan (tapi harus maju dulu dan puter balik) mengarah ke Jawa Tengah, Tasik, Garut, Ciamis dan sekitarnya. Nah, jalan ini yang kami lalui. Tampak jejeran pedagang tahu sumedang di sepanjang tepi jalan simpang empat tersebut. Kami pun memasuki wilayah Rancaekek (kecamatan kali ya? Ntar Tanya Dede Yusuf dulu ah…). Karena sudah lewat tengah malam, perjalanan kami tidak mengalami banyak hambatan kemacetan. Angkot-angkot yang biasanya menjadi penyebab macet, saat ini sedang tidur nyenyak. Lumayan, mobil bisa agak sedikit lebih dipacu. Jalan yang lumayan lebar (masing-masing dua jalur dengan pembatas tengah) membuat perjalanan menjadi nyaman. Tetapi mendekati Nagrek, batas tengah menghilang, dan mulailah jalan yang naik turun gak karuan.

Di jalan cagak (simpang Nagrek), beberapa kilometer setelah perlintasan Kereta Api, kami mengambil arah ke kiri bawah (arah Malangbong, Rajapolah, Ciawi, Ciamis) dan bukan ke kanan agak naik (arah Garut). Untuk menuju Ciamis, jalur ke Garut adalah jalur yang memutar. Oh iya, setelah perlintasan KA, di kiri kanan jalan, berjejer kios-kios pedagang oleh-oleh, seperti buah-buahan, ubi cilembu, dan lain. Lumayan ramai dan lumayan asyik untuk sedikit meluruskan kaki dan punggung.

Perjalanan antara Nagrek ke Ciamis kami tempuh dalam suasana yang gelap dan agak gerimis. Sebenarnya lalu lintas tidak terlalu ramai, tetapi kami harus menjumpai beberapa titik antrian (kadang berhenti). Penyebabnya ternyata karena banyak jalur jalan mendaki dan berkelak kelok, sementara banyak truk bermuatan berat yang melintas. Ketika mereka berpapasan di kelokan jalan menanjak, salah satu terpaksa harus berhenti (mengerem, red). Akibatnya, terjadilah antrian yang terkadang agak panjang.

Kami tiba di Sindangkasih, Cikoneng, Kabupaten Ciamis, tepat pukul 02.00 WIB, dinihari. Sayang sekali, baterai kamera habis, jadi tidak ada gambar yang tersajikan kali ini. Rumah Uwa Soleh menjadi tempat kami menginap di hari pertama ini. Hujan masih menetes turun dari angkasa, menyambut kehadiran kami di salah satu tempat persinggahan dalam perjalanan ke tanah pasundan kali ini. Ciamis, kami datang…!!!!

Wass.

Sabtu, 26 Desember 2009

Jalan-Jalan ke Tanah Pasundan I - Rest Area Km 39



Rabu malam, tanggal 23 Desember 2009, pukul 20.00 WIB, kami memulai perjalanan liburan ke daerah Ciamis dan sekitarnya. Libur yang dimulai hari Kamis sampai dengan Minggu ini lumayan mengasyikkan untuk digunakan mengajak anak kami yang berusia empat tahun berjalan-jalan ke wilayah yang terkenal banyak memiliki kolam air tawar untuk memelihara ikan konsumsi ini. Penjelajahan dan petualangan merupakan dua kata yang aku dan anakku sepakati untuk perjalanan kali ini. Tiga target utama kami, yaitu penjelajahan sawah, penjelajahan kolam, dan petualangan memancing.

Kami memutuskan untuk berangkat malam itu, dengan pertimbangan, agar kami memiliki waktu yang lebih panjang untuk melakukan penjelajahan. Kebetulan, sepupu istriku, dan anaknya, ikut bersama kami, sehingga aku tidak menyetir sendiri.

Ternyata tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mulai menikmati kegembiraan penjelajahan kali ini. Di km 39 jalan tol Jakarta Cikampek, tepat pukul 20.30 WIB, kami berhenti di rest area untuk mengisi BBM dan membeli beberapa keperluan selama perjalanan. Setelah mengisi bahan bakar, kami memarkir mobil di area parkir yang telah tersedia.

Saat keluar dari toilet, anakku berkata kepada istriku, “Bunda, Abi laper…” Ia mengatakannya karena ternyata ia sudah melihat papan nama salah satu gerai makanan penyaji ayam goreng. Hmm…kelakuan… Akhirnya, istriku membeli dua potong burger untuk anakku dan sepupunya, setelah melalui antrian yang lumayan panjang pada malam hari itu.

Ternyata rest area itu memiliki masjid yang lumayan besar dan bagus. Di halaman masjid ada sebuah kolam yang diisi dengan ikan koi aneka warna. Ikan-ikan itu berenang mendekat setiap kali tangan kami dimasukkan ke air kolam. Ikan-ikan jinak itu sangat menyenangkan. Alhasil, kami menikmati istirahat cukup lama. Kebetulan, aku pun belum makan malam, dan aku makan bekalku di pinggir masjid tersebut. Anakku dan sepupunya sangat gembira, dan inilah petualangan pertamanya dalam perjalanan kali ini, petualangan di rest area km 39 tol Cikampek.

Seperti biasa, selalu ada proses dokumentasi. Namun sayang, gambar yang kami peroleh tidak bagus, karena tiga factor, kegelapan malam, kualitas kamera yang hanya kamera saku, dan tukang foto yang amatir, 

Sekitar pukul 21.45 WIB, kami meninggalkan rest area yang nyaman itu, dan melanjutkan perjalanan ke timur.

numpang info

Pengunjung


ip address
counter

Total Tayangan Halaman

Info untuk tambah-tambah uang receh (bagi yang berminat...)

prepare for mudik

prepare for mudik